Manusia hidup di bumi ini sangat tergantung oleh lingkungan disekitar kita. Lingkungan sekitar kita terdiri dari baik itu benda mati seperti tanah, gunung, sungai, pohon, maupun makhluk hidup seperi manusia sendiri dan mahluk hidup ciptaan Tuhan yang lain seperti binatang, hewan. Antara makhluk hidup lain dan manusia, antara manusia dan tumbuhan, antara manusia dan benda sekitarnya saling mempunyai ketergantungan satu sama lain. Manusia membutuhkan hewan, manusia membutuhkan batu, manusia membutuhkan sarana pangan, manusia membutuhkan air, manusia butuh hutan, dan yang paling saya ketahui diantara makhluk hidup di bumi ini yang paling banyak kebutuhannya adalah manusia. Kita sangat menyadari bahwa manusia merupakan mahkluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna dan dibekali akal dan budi, saya belum tahu apakah diluar bumi ini ada makhluk ciptaan Tuhan yang lebih sempurna dari manusia. Yang kami tahu, manusia adalah makhluk hidup yang paling serakah di bumi ini. Sadarkah kita ?
Sebenarnya tumbuhan juga memerlukan belaian kasih sayang, jangan hanya dikonsumsi terus tetapi perlu dibudidayakan, hutan jangan ditebangi terus, bangunan yang tidak perlu jangan di bangun kalau hanya sekedar menebangi pohon dan merusak lahan gambut dan mengusir ikan serta habitat yang lain. Penebangan hutan secara drastis dan pembangunan perumahan serta pabrik dan pelebaran jalan secara membabi buta hanya untuk kenyamanan sesaat akan menimbulkan bencana besar terhadap anak cucu kita di kelak kemudian hari. Adanya proyek semacam itu hanya untuk "menggendutkan" perut sesaat dan segelintir manusia saya yang rakus akan kenikmatan, karena pasti hasilnya hanya untuk melayani nafsu kenikmatan sesaat karena manusia mempunyai sifat yang rakus tadi. Nah, terjadilah banjir dan tanah longsor, gempa dan gesekan perut bumi karena kandungan yang ada di perut bumi yang dieksploitasi secara terus menerus sehingga menimbulkan rongga dan terjadilah pergeseran lempengan, semua hanya untuk kepuasan, marilah kita mencoba memprediksikan secara matang akibat dari eksploitasi yang sangat berlebihan itu. Ataukah sudah kita pikirkan tentang Ilmu Eskploitasi sehingga memunculkan konsep hukum Eksploitasi. Eksploitasi tidak hanya untuk bahan tambang saja tetapi juga eksloitasi terhadap benda hidup seperti tumbuhan dan hewan agar tidak cepat punah dan terjadi suatu simbiosis mutualisme sehingga akan terjaga pola arus rantai makanan di bumi ini. Mungkin perlu bidang studi Ilmu Ekpoitasi ?
Apabila sudah terjadi ketidak nyamanan pada alur rantai makanan ini tentu akan menyebabkan bomerang sendiri terhadap manusia. Siklus kehidupan ini akan terganggu sehingga tidak nyaman lagi bahkan membuat kita sakit karena banyak terkontaminasi, gerang kepanasan karena udara panas oksigen berkurang dan zat asam arang bertambah karena banyaknya pembakaran (efek rumah kaca sehingga menimbulkan pemanasan global), lemah badan hingga lemah syahwat karena kandungan makanan banyak tercemar logam berat, banyak wanita mandul dan laki laki mandul jaman sekarang ini (mungkinkan karena efek konsumsi bahan makanan yang mengandung insektisida selama hidupnya). Memang intensifikasi pertanian yang dicanangkan dalam GBHN menunjukkan peningkatan kwantitas hasil pertanian yang semakin banyak, akan tetapi kualitas dari bahan pangan itu sendiri berkurang karena adanya pencemaran insektisida yang diserap oleh sari-sari tumbuhan itu. Marilah kita coba dari sekaran memakan tanaman yang tanpa disemprot dan tanpa ada pengaruh dari insektisida atau logam berat. Belum lagi insektisida dan kelebihan pupuk kimiawi akan menurunkan unsur hara tanah sehingga menyebabkan tanah semakin tidak subur lagi. Sekedar ilustrasi saja, 30 tahun silam ketika saya masih anak anak, banyak sekali ikan air tawar (gabus, lele lokal, wader pari, uceng, cempli atau cethol, mujahir) yang dapat kita kail di parit samping rumah kita, bahkan mata kail pun hanya kami buat dari bahan peniti (jawa : dom kancing) dengan senar dari benang jahit biasa pun dapat membawa ikan banyak, kalau malam banyak jangkrik, orong-orong, disiang hari banyak aneka macam kupu-kupu yang warna sayapnya sangat indah, setiap pagi pula saya selalu mandi di "belik" semacam sumber air sangat jernih bahkan pernah saya langsung meminumnya dan tidak sakit. Setelah siang pulang sekolah, saya berlama-lama di sawah melihat aneka macam burung seperti Jalak Uren, Jalak Penyu yang hinggap di pohon cangkring, betet, trothok, elang jawa (besar panjang hitam dan sangat gagah melayang-layang di atas sawah) dan banyak aneka burung berkicau.
Tetapi kini kala aku pulang rumah, semua sirna hanya dalam waktu 30 tahun, mau mengail ikan saja setengah mati harus berpanas-panas dan tidak ada satupun ikan gabus karena keberhasilan intensifikasi pertanian di satu sisi dengan banyaknya aneka ragam macam pupuk dan obat insektisida yang harus dicurahkan untuk membunuh makhluk hidup lain secara membabi buta, imbasnya matilah telur ikan di sungai akibat curahan insektisida di sawah, belum lagi ulah rakus manusia untuk mencukupi perut seenaknya dengan melakukan eksploitasi berlebihan seperti penangkapan ikan menggunakan setrum dan obat-obatan bahkan bahan peledak. Kupu-kupu sudah sangat jarang terlihat lagi, apalagi yang warna sayapnya sangat indah seperti waktu kecil dahulu. Sekarang aku mau mandi di kali kecuali malu karena tititnya sudah menjadi totot, airnya sudah tidak ada lagi, bahkan sungai sudah penuh dengan sampah dan baunya sangat tidak sedap. Mau main kesungai saja sekarang ini menjijikkan . Cobalah sekarang main di sawah, tak terlihat lagi aneka macam burung, karena burung yang dahulu itu mandul semua bahkan ada yang mati karena memakan cacing dan buah yang ada disawah yang banyak disiram dengan insektisida, kalau gak percaya bisa dibuktikan, dahulu waktu kecil mau cari cacing gampang sekali bahkan dapat uret atau jangkrik, sekarang cacing pun hanya dapat satu atau dua alias sulitlah, apalagi uret atau jangkrik pasti hampir punah. Kalau cacing punah, jangkrik tak ada, nantinya pasti tikus bertambah gendut dan besar, ular pun akan demikian dan akan makan tanaman yang kita perlukan seperti merampas padi, ketela dan sayuran. Ular semakin lama akan memakan ayam peliharaan kita dan bahkan hati-hati dengan anak kita (aku lebih-lebihkan saja, jengkel !). Kalau hutan gundul, harimau, ular dan kera pasti akan turun karena kepanasan dan kalau lapar akan memangsa kita dan yang kita miliki yang dapat dinikmatinya (mati kecaplok macan !). Benar juga kata Ronggowarsito (seorang pujangga dan ahli nujum /fortuneteller dari Jawa), sekarang ini jamannya "suket grinting sobo ndalan" . Kendaraan baik mobil ataupun sepeda motor seperti suket grinting yang bulat dan dapat menggelinding dan banyak kita jumpai di jalan bahkan bisa dijumpai satu orang punya dua kendaraan. Ingat kah akan emisi gas buang yang sangat meresahkan pernapasan ? banyak anak kecil saat ini sakit flek paru-paru. Nah inilah penulis menulis sambil jengkel oleh kejadian dilingkungan kita sendiri karena kurangnya manajemen ekologi. Perlukah lagi ilmu Manajemen atau Ekonomi Ekologi ?
Masalah lingkungan merupakan masalah timbul sejak kita hidup dan menghirup udara pertama kali ketika kita dilahirkan dari kandungan seorang ibu. Udara yang kita hirup pertama kali akan sangat mempengaruhi kekebalan tubuh kita. Masalah lingkungan akan kita bawa sampai mati. Ketika kita mati pada umumnya akan memerlukan lahan untuk pemakaman, kondisi ini selalu akan berubah tatkala lahan sudah tidak ada lagi karena maraknya pembangunan sehingga tanah sejengkan ukuran 1m X 3 m saja sudah tidak tersedia sehingga kelak tidak menutup kemungkinan jasad anak cucu kita mungkin akan diperabukan. Masalah lingkungan juga selalu menghantui selama hidup kita. Kondisi lingkungan yang jelek akan mengakibatkan manusia sakit-sakitan. Hal ini mungkin ditentang oleh para dokter dan ilmu kedokteran itu dapat dikatakan ilmu yang ambivalen, kalau sehat dokter tidak laku tetapi kalau tidak sehat manusia bingung cari dokter.
Penanganan lingkungan hidup kita ini memerlukan berbagai aspek keilmuan, baik dari ekologi, ekonomi, psikologi, kedokteran, geologi, matematis, fisika, kimia, hukum, sosiologi bahkan hampir berssinggungan dengan semua bidang ilmu. Masalah lingkungan akan muncul ketika lingkungan kita terjadi pencemaran dan ketentuan tentang pencemaran itu sendiri memerlukan suatu parameter tersendiri. Setelah terjadi pencemaran akan timbul hukum sebab akibat dan muncul konflik kepentingan. Dengan terjadinya pencemaran tentu akan ada yang dirugikan baik itu hancurnya lingkungan itu sendiri, menyebabkan sakitnya manusia, kerugian materiil, kerugian secara umum milik suatu golongan bahkan suatu negara. Dengan adanya pencemaran lingkungan memerlukan sarana penyelesaian yang mencakup berbagai disiplin ilmu, parameter ambang batas pencemaran tentunya memerlukan ilmu fisika dan kimia, bahkan kalau merusak organ tubuh manusia memerlukan otopsi dokter, merusak ekosistem memerlukan ilmu ekologi dan penuntutannya memerlukan ilmu Hukum. Karena bumi ini bulat, pencemaran baik udara, laut atau air akan melibatkan lintas wilayah bahkan lintas negara sehingga memerlukan pengaturan baik itu nasional, regional dan internasional. Ada asap tentu dapat dicari dan diketahui awal mula titik apinya. Demikianlah pandangan lingkungan secara umum yang memerlukan penanganan dan penanggulangan secara lintas sektoran, dari beberapa disiplin ilmu dan secara KOMPREHENSIP.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar