Minggu, 06 Mei 2012

BIASAKAN MEMBACA DARI PADA MENGGOSIP

Dari membaca kita menimba ilmu, dari membaca pula kita membuka pikiran lebar-lebar, dari membaca kita menjadi sarjana, dari membaca kita mengurangi pengangguran dan kemiskinan, dari membaca kita tahu isi dunia.

Di negeri ini lain dengan negeri tetangga, seperti halnya Australia ataupun di negeri Sakura "Jepang", penduduk (baik itu imigran maupun asli) sudah terbiasa dengan membaca baik itu novel ataupun berita apa saja, dan membaca di sana dilakukan kapan saja dan dimana saja (baik diterminal, stasiun bus, dalam kereta api, di taman terbuka, apalagi di perpustakaan). Eloknya lagi seperti di Australia ada harian yang beredar pada siang hari dan dikonsumsi gratis untuk semua kalangan dan beritanya cukup menarik (harian MX). 

Kebiasaan membaca sangat jarang kita jumpai di negeri Indonesia, bahkan di perpustakaanpun terkadang lengang pengunjung, pegawainya juga terlihat malas-malasan. Terkadang lebih baik menggunakan waktu luang untuk "ngomongin orang" ataupun untuk "mendengkur" bahkan di waktu kerja, dari pada membaca.
BUDAYA INILAH YANG HARUS CEPAT KITA RUBAH. PEMERINTAH HARUS MENYEDIAKAN SARANA HARIAN GRATIS AGAR MELATIH PENDUDUKNYA UNTUK GIAT MEMBACA. COBA BUKTIKAN. 

Sabtu, 21 Januari 2012

Asem kecut, untuk pelindung bagi pengguna jalan .

Asem tenan, asem banget, biasanya orang jawa menggunakan kata itu untuk mengumpat. Memang asem rasanya kecut, sehingga layak bagi orang jawa untuk memakai kata itu dalam keadaan menggerutu, menjengkelkan dan dalam suasana hati gundah.
Terkadang bagi pengguna jalan baik jalan kaki atau menggunakan sarana transportasi lain seperti mobil, apabila dalam perjalanan terjadi traffic jam atau kemacetan, sedangkan suasana saat itu panas terkadang terlontar kata "asem tenan kok panase". Demikian pula apabila dalam suasana hujan deras dan banyak pohon tumbang, sehingga pengguna jalan mengalamai kemacetan...kata itu terkadang muncul pula "asem tenan, kurang ajar ono wit ambruk!".
Nah...padahal kalau kita tahu.....
Pohon asem itu sebenarnya sangat banyak fungsinya apabila ditanam di pinggiran jalan. Selain sangat representatif untuk perindang pada siang hari, juga sangat baik untuk menyerap air hujan bahkan pohon itu dengan karakteristik akar yang kuat, batang yang kokoh dan daun rimbun dengan penampang daun yang kecil2 pasti akan sulit tergoyahkan oleh angin pada waktu angin tersebut membuat keributan, alias terjadi angin ribut. Tidak seperti pohon pinggir jalan saat ini yang asal tanam dengan penampang daun yang sangat lebar-lebar, sehingga sering tumbang diterjang angin ribut seperti di Jakarta. Macetkan ????? terus bilang "asem kecut"...padahal tak ada pohon asem disitu.
Tulisan ini memberikan inspirasi saja agar sebagai perindang di pinggir jalan raya, sebanyak mungkin ditaman pohon asem.....seperti jaman penjajahan belanda dulu kala.
Cukup sekian dulu.