Sabtu, 21 Januari 2012

Asem kecut, untuk pelindung bagi pengguna jalan .

Asem tenan, asem banget, biasanya orang jawa menggunakan kata itu untuk mengumpat. Memang asem rasanya kecut, sehingga layak bagi orang jawa untuk memakai kata itu dalam keadaan menggerutu, menjengkelkan dan dalam suasana hati gundah.
Terkadang bagi pengguna jalan baik jalan kaki atau menggunakan sarana transportasi lain seperti mobil, apabila dalam perjalanan terjadi traffic jam atau kemacetan, sedangkan suasana saat itu panas terkadang terlontar kata "asem tenan kok panase". Demikian pula apabila dalam suasana hujan deras dan banyak pohon tumbang, sehingga pengguna jalan mengalamai kemacetan...kata itu terkadang muncul pula "asem tenan, kurang ajar ono wit ambruk!".
Nah...padahal kalau kita tahu.....
Pohon asem itu sebenarnya sangat banyak fungsinya apabila ditanam di pinggiran jalan. Selain sangat representatif untuk perindang pada siang hari, juga sangat baik untuk menyerap air hujan bahkan pohon itu dengan karakteristik akar yang kuat, batang yang kokoh dan daun rimbun dengan penampang daun yang kecil2 pasti akan sulit tergoyahkan oleh angin pada waktu angin tersebut membuat keributan, alias terjadi angin ribut. Tidak seperti pohon pinggir jalan saat ini yang asal tanam dengan penampang daun yang sangat lebar-lebar, sehingga sering tumbang diterjang angin ribut seperti di Jakarta. Macetkan ????? terus bilang "asem kecut"...padahal tak ada pohon asem disitu.
Tulisan ini memberikan inspirasi saja agar sebagai perindang di pinggir jalan raya, sebanyak mungkin ditaman pohon asem.....seperti jaman penjajahan belanda dulu kala.
Cukup sekian dulu.