Terlebih dahulu akan ku kupas mengenai unsur merkuri, orang awam banyak tak tahu sebangsa apa itu merkuri, apalagi bagi orang pedalaman. Sebelumnya akupun tak tahu, karena bidang ilmuku berkecimpung dibidang hukum, perbankan dan sosial ekonomi melulu. Coba .....tahukah anda....yang sebenarnya, may be wartawan pun tak tahu sebenarnya apa itu merkuri. Hanya saja tulis dan terus tulis tercemar merkuri, tercemar merkuri.....atau tahu...tahu dikit. Ini hanya barangkali lho....eh barangkali itu ada enaknya adapula tidak enaknya. Barangkali yang enak adalah batu, ikan, udang, dan barangkali yang tidak enak adalah "maaf-itu lho kotoran manusia atau hewan yang mengapung di kali atau sungai", sampah yang dibuang ke kali atau sungai, dan bahan pencemar lain, ya contohnya adalah "si merkuri" tadi.
What is "mercury" ?
Baca aja ya di KBBI, edisi ketiga terbitan Balai Pustaka 2007, disitu diterjemahkan sebagai "merkurium" atau yang sering dikenal orang dengan "air raksa". Merkurium merupakan unsur logam dengan nomor atom (n.a) 80 dan berlambang "Hg", dengan bobot atom 200,59 (halaman :737). Cuma itu, ya...di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) yang segede itu, hanya disebutkan kira-kira intinya seperti itu. Ayo kita telusuri lebih lanjut, aku masih penasaran. Kita ambil dari Kamus Kimia, edisi baru yang bersumber dari A Concise Dictonary of Chemistry diterbitkan pertama kali oleh Oxford University Press tahun 1984, dan diterjemahkan oleh Suminar Achmadi Phd dari IPB dan diterbitkan oleh Penerbit Erlangga, merkuri (mercury) merupakan unsur logam cair keperakan (jadi warnanya keperakan) yang termasuk golongan zink, n.a 80, Ar 200,59, d.r 13,55, t.l -38,87 derajat celcius, t.d 356,58 derajat celcius, bijih utamanya adalah sufida sinabar (HgS), yang dapat diuraikan menjadi unsur-unsur lainnya. Merkuri digunakan dalam termometer, barometer, radas ilmiah lainnya, serta dalam analgam didi. Unsur ini kurang reaktif dibandingkan dengan zink dan kadmium dantidak akan menggantikan hidrogen dari asammya.
Merkuri digunakan juga untuk memisahkan unsur emas dari bahan lain yang ada di pertambangan emas. Di Pontianak banyak dijumpai penggunaan air raksa untuk menyepuh logam (cincin akik) dengan emas, dapat kita jumpai di pinggiran pertokoan "Pasar Tengah" di Jalan Tanjungpura, Kota Pontianak.
Di hulu sungai Kapuas dengan adanya "PETI" sungai Kapuas mulai tercemar oleh endapan merkuri.
Terus bahayanya macem apa ?
Ini harus aku gambarkan contoh kasusnya, ada dua contoh kasus yang satu di negara Jepang dan yang satu di Indonesia sendiri. Dikit jak, aku uraikan, seperti di beritakan oleh harian Tribun Pontianak di dalam rubrik Editorial, tanggal 14 Mei 2009, dengan judul "Hindarkan Kalbar dari Tragedi Minamata", tragedi itu terjadi di Teluk Minamata yaitu suatu daerah di negara Jepang, tepatnya di Pulau Kyushu. Kedengarannya seperti di Indonesia ya ! tetapi jangan di "pleset" kan, mina berarti ikan dan mata berarti penglihatan. Karena orang kita kan sukanya "plesetan". Memang kasus Minamata ini berhubungan dengan konsumsi ikan. Cerita dikit jak, suatu pagi pada bulan Mei 1956, empat warga Minamata dilarikan ke rumah sakit, mereka mengalami gejala yang sama : pusing, tangan dan kaki kesemutan disertai gemetaran, tragisnya mereka tewas setelah suhu tubuhnya meningkat drastis dan koma, makin heboh manakala dalam tempo singkat 17 orang lainnya meninggal pasca mengalami gejala yang sama. Petaka ini baru terjawab dua tahun kemudian, wah lama juga ya...., mungkin dokter pada waktu itu belum canggih atau perlengkapannya tidak dapat mendeteksi penyakit secara cepat. Akhirnya tim peneliti menguak biangnya adalah limbah air raksa (merkuri) yang bertahun-tahun dibuang oleh pabrik pupuk Chisso ke Teluk Minamata. Limbah merkuri tersebut mencemari ikan-ikan yang dikonsumsi oleh masyarakat daerah sekitar Teluk Minamata. Sepuluh tahun kemudian Chisso diwajibkan untuk membayar kompensasi pada penderita sebesar 900 juta Yen. Angka resmi Badan Lingkungan Jepang mencatat sampai mencapai 2.239 orang terkena dampaknya dan 987 orang meninggal dunia. Mengerikan ya ! sakitnya baru terdeteksi bertahun, tahun.
Satu lagi kasus yang mirip Minamata di Indonesia yaitu di Teluk Buyat, Minahasa, Sulawesi Utara yang tercemar limbah tambang PT. Newmont Minahasa Raya.
Merkuri bersifat merusak sistem syaraf yang berakibat gangguan pada penglihatan, daya ingat, gemetaran sampai keluhan persendian. Merkuri sangat berbahaya pada wanita hamil, karena janin yang dikandung mempunyai potensi besar lahir cacat. Hiiii .........mengerikan bagi ibu-ibu hamil untuk mengkonsumsi air sungai yang mengandung merkuri.
Kembali ke Sungai Kapuas !
Habis, mau kembali ke Laptop nanti dikira tiru-tiru "Empat Matanya" Thukul Arwana.
Kalau kita akan ke kota Pontianak sebagai ibu kota Propinsi Kalimantan Barat, dan kota ini merupakan kota kecil yang indah dan unik, dengan naik kapal, kapal yang kita tumpangi akan melalui muara sungai Kapuas untuk menuju ke Pelabuhan Dwikora. Yang belum pernah naik kapal ke Pontianak silahkan mencoba dan jika belum sempat dapat membayangkan saja lebarnya dan dalamnya muara Sungai Kapuas hingga dapat dilewati kapal. Tidak seperti sungai di Jawa yang sempit dan dangkal, kalau di Kalimantan disebut "parit" jak. Bencana besar mengancam masyarakat yang secara akumulatif mengkonsumsi atau menggunakan air sungai Kapuas dalam kehidupan sehari-hari.
cerita ini masih panjang ...banget .. lanjutnya besok ada kerjaan lain ....
What is "mercury" ?
Baca aja ya di KBBI, edisi ketiga terbitan Balai Pustaka 2007, disitu diterjemahkan sebagai "merkurium" atau yang sering dikenal orang dengan "air raksa". Merkurium merupakan unsur logam dengan nomor atom (n.a) 80 dan berlambang "Hg", dengan bobot atom 200,59 (halaman :737). Cuma itu, ya...di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) yang segede itu, hanya disebutkan kira-kira intinya seperti itu. Ayo kita telusuri lebih lanjut, aku masih penasaran. Kita ambil dari Kamus Kimia, edisi baru yang bersumber dari A Concise Dictonary of Chemistry diterbitkan pertama kali oleh Oxford University Press tahun 1984, dan diterjemahkan oleh Suminar Achmadi Phd dari IPB dan diterbitkan oleh Penerbit Erlangga, merkuri (mercury) merupakan unsur logam cair keperakan (jadi warnanya keperakan) yang termasuk golongan zink, n.a 80, Ar 200,59, d.r 13,55, t.l -38,87 derajat celcius, t.d 356,58 derajat celcius, bijih utamanya adalah sufida sinabar (HgS), yang dapat diuraikan menjadi unsur-unsur lainnya. Merkuri digunakan dalam termometer, barometer, radas ilmiah lainnya, serta dalam analgam didi. Unsur ini kurang reaktif dibandingkan dengan zink dan kadmium dantidak akan menggantikan hidrogen dari asammya.
Merkuri digunakan juga untuk memisahkan unsur emas dari bahan lain yang ada di pertambangan emas. Di Pontianak banyak dijumpai penggunaan air raksa untuk menyepuh logam (cincin akik) dengan emas, dapat kita jumpai di pinggiran pertokoan "Pasar Tengah" di Jalan Tanjungpura, Kota Pontianak.
Di hulu sungai Kapuas dengan adanya "PETI" sungai Kapuas mulai tercemar oleh endapan merkuri.
Terus bahayanya macem apa ?
Ini harus aku gambarkan contoh kasusnya, ada dua contoh kasus yang satu di negara Jepang dan yang satu di Indonesia sendiri. Dikit jak, aku uraikan, seperti di beritakan oleh harian Tribun Pontianak di dalam rubrik Editorial, tanggal 14 Mei 2009, dengan judul "Hindarkan Kalbar dari Tragedi Minamata", tragedi itu terjadi di Teluk Minamata yaitu suatu daerah di negara Jepang, tepatnya di Pulau Kyushu. Kedengarannya seperti di Indonesia ya ! tetapi jangan di "pleset" kan, mina berarti ikan dan mata berarti penglihatan. Karena orang kita kan sukanya "plesetan". Memang kasus Minamata ini berhubungan dengan konsumsi ikan. Cerita dikit jak, suatu pagi pada bulan Mei 1956, empat warga Minamata dilarikan ke rumah sakit, mereka mengalami gejala yang sama : pusing, tangan dan kaki kesemutan disertai gemetaran, tragisnya mereka tewas setelah suhu tubuhnya meningkat drastis dan koma, makin heboh manakala dalam tempo singkat 17 orang lainnya meninggal pasca mengalami gejala yang sama. Petaka ini baru terjawab dua tahun kemudian, wah lama juga ya...., mungkin dokter pada waktu itu belum canggih atau perlengkapannya tidak dapat mendeteksi penyakit secara cepat. Akhirnya tim peneliti menguak biangnya adalah limbah air raksa (merkuri) yang bertahun-tahun dibuang oleh pabrik pupuk Chisso ke Teluk Minamata. Limbah merkuri tersebut mencemari ikan-ikan yang dikonsumsi oleh masyarakat daerah sekitar Teluk Minamata. Sepuluh tahun kemudian Chisso diwajibkan untuk membayar kompensasi pada penderita sebesar 900 juta Yen. Angka resmi Badan Lingkungan Jepang mencatat sampai mencapai 2.239 orang terkena dampaknya dan 987 orang meninggal dunia. Mengerikan ya ! sakitnya baru terdeteksi bertahun, tahun.
Satu lagi kasus yang mirip Minamata di Indonesia yaitu di Teluk Buyat, Minahasa, Sulawesi Utara yang tercemar limbah tambang PT. Newmont Minahasa Raya.
Merkuri bersifat merusak sistem syaraf yang berakibat gangguan pada penglihatan, daya ingat, gemetaran sampai keluhan persendian. Merkuri sangat berbahaya pada wanita hamil, karena janin yang dikandung mempunyai potensi besar lahir cacat. Hiiii .........mengerikan bagi ibu-ibu hamil untuk mengkonsumsi air sungai yang mengandung merkuri.
Kembali ke Sungai Kapuas !
Habis, mau kembali ke Laptop nanti dikira tiru-tiru "Empat Matanya" Thukul Arwana.
Kalau kita akan ke kota Pontianak sebagai ibu kota Propinsi Kalimantan Barat, dan kota ini merupakan kota kecil yang indah dan unik, dengan naik kapal, kapal yang kita tumpangi akan melalui muara sungai Kapuas untuk menuju ke Pelabuhan Dwikora. Yang belum pernah naik kapal ke Pontianak silahkan mencoba dan jika belum sempat dapat membayangkan saja lebarnya dan dalamnya muara Sungai Kapuas hingga dapat dilewati kapal. Tidak seperti sungai di Jawa yang sempit dan dangkal, kalau di Kalimantan disebut "parit" jak. Bencana besar mengancam masyarakat yang secara akumulatif mengkonsumsi atau menggunakan air sungai Kapuas dalam kehidupan sehari-hari.
cerita ini masih panjang ...banget .. lanjutnya besok ada kerjaan lain ....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar