Jumat, 12 Desember 2008

Sampah, masalah yang selalu muncul !!!!!!

Marilah kita sama-sama telusuri istilahnya terlebih dahulu, menurut "Kamus Besar Bahasa Indonesia" edisi Ketiga (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional) dicetak oleh Penerbit Balai Pustaka, Jakarta tahun 2007 (KBBI), pada halaman 990 pengertian sampah adalah "barang atau benda yang dibuang karena tidak terpakai lagi". Kita sering kali rancu mengartikan sampah dengan limbah. Menurut kami, istilah sampah lebih luas dari pada pengertian limbah, limbah termasuk sampah, marilah kita telusuri istilah limbah lebih lanjut, didalam halaman 672 KBBI tersebut diatas disebutkan pengertian limbah adalah: 1). sisa produksi, 2). bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau utama dalam pembuatan atau pemakaian, 3). barang rusak atau cacat dalam proses produksi.
Limbah cair adalah air yang membawa sampah dari rumah, bisnis, dan industri.
Limbah halaman adalah guntingan, pangkasan tanaman, dan bahan buangan lainnya dari halaman dan kebun.
Limbah Industri adalah limbah yang berasal dari buangan kegiatan industri.
Limbah padat adalah bahan yang tidak berguna, tidak diinginkan atau dibuang dengan kandungan cairan yang tidak cukup untuk bebas mengalir. Nah kita pasti akan bisa mengerti tentang perbedaan istilah sampah dan limbah, paling tidak bisa membedakan, ataukan malah tambah bingung? Kalu pusing minum saja puyer 78, atau naspro, kalau bingung cepat-cepat cari pegangan ya! entar terjatuh.
Mengapa sampah selalu menarik untuk dijadikan pembicaraan ?
Karena sampah merupakan hasil "ekses" dari kegiatan kehidupan manusia sehari-hari. Oleh karena itu sampah selalu hangat diperbincangkan, diperdebatkan dan diberitakan bahkan tidak jarang menjadi peluang untuk mendapatkan penghasilan. Sampah pula yang memicu perselisihan karena orang tidak mau akan bau busuk sampah karena orang sembarangan buang sampah. Orang juga tidak mau akan dikatakan "sampah masyarakat", karena istilah sampah itu sudah menjadi istilah yang sangat jelek di benak kita. Sampah pasti bau, pasti bentuknya jelek dan menjijikkan, pasti busuk, pasti banyak lalat,pasti sarang penyakit dan sebagainya dan sebagainya. Kita yakin kalau sampah akan selalu mencemari lingkungan kita meskipun dalam batas kecil. Kita tidak mau kan terkena dampak pencemaran ? tentunya tidak mau karena akan membikin bau tidak enak pandangan tidak nyaman dan badan tidak sehat alias "sakit". Sakit dapat bermacam macam, sakit mata , sakit tenggorokan, sakit gigi, sakit hidung bahkan "sakit hati" (coba kita lempari rumah tetangga dengan sisa makanan kita) yang dapat mengakibatkan menurunnya kekebalan tubuh dan menuju ke awal kematian.
Selagi dibumi ini masih dihuni manusia, pasti akan selalu ada sampah. Semakin banyak penghuninya akan semakin banyak tumpukan sampah disekitarnya.
Terus siapakah yang bertanggung jawab akan sampah ?
Dinas tata kota ? Dinas Lingkungan Hidup ? atau pemulung ? atau Pemerintah Daerah setempat? atau Ketua RT? atau Lurah?.....yahhh tentunya sampah menjadi tanggung jawab kita semua. Makanya kita tidak boleh buang sampah disembarang tempat.
Konsep "Sapu Lidi" dalam penanganan sampah !
Tentunya kita semua tahu, apa itu sapu lidi. Lidi adalah sebatang tulang dari daun kelapa yang biasanya digunakan untuk sapu dan untuk tusuk sate ayam atau tusuk sudi (tempat aneka makanan berupa bulatan kecil sebesar tutup gelas terbuat dari daun pisang yang dipergunakan dalam hajatan - di Jawa). Saat ini pula lidi sudah mengalami perkembangan fungsinya dibuat berbagai aneka hiasan mulai. Lidi jika hanya sebatang tentu tidak akan banyak manfaatnya, tetapi setelah diikat akan menjadi sapu yang kuat yang mampu untuk menyapu dan membersihkan halaman. Nah, apabila kita bersatu dari pemulung, pak RT, hingga aparat yang berkompeten manangani sampah pasti kita akan berhasil mengelola sampah dengan baik dan bijaksana. Mari bersatu seperti "SAPU LIDI" untuk menyikapi sampahhhhhhhhhhhhhhh.
Pengelolaan sampah dengan baik artinya kita mampu membedakan mana sampah itu yang dapat langsung membusuk, istilah kerennya "sampah organik" dan sampah yang tidak dapat membusuk "sampah anorganik". Harus kita pisahkan diantara sisa makanan dari tumbuhan (sayur-mayur / kayu bakar) atau dari daging (tulang, ikan busuk) dari plastik (biasanya pembungkus dan botol) dari besi, logam dan tembaga, dari kaca, dan yang paling kita pisahkan adalah sisa bahan kimia yang beracun dan berbahaya (B3) yang banyak mengandung logam berat dan racun. Pasti ada cara tersendiri untuk mengatasi pemisahan sampah tersebut, tergantung dari karakteristik lingkungan keluarga, luas tempat, lingkungan hunian dan lingkungan sosial masyarkatnya, yang penting kita sama-sama mempunyai kesadaran tentang hal itu. Kalau kita sudah menyadari tentang pengelolaan sampah yang baik, tentu kita akan bertindak secara bijaksana (bukan "bijak-bijik" atau "bijik sana-bijik sini" entar kepala menjadi bengkak terbentur dinding atau ditonjok orang). Bijaksana disini tentunya pelaksanaannya dapat diterima oleh lingkungan setempat, nah inilah "Ketua RT" menjadi ujung tombak dalam pelaksanaan pengelolaan sampah.
Peranan Ketua RT dalam kebijaksanaan pengelolaan sampah di masyarakat sangat penting.
Kenape ? karena "Pak RT" merupakan orang yang paling mengetahui kegiatan dan seluk-beluk permasalahan dilingkungan rumah tangga kampung atau dusunnya. Bijaksana dengan cara apa? tentunya dengan cara musyawarah antar tetangga. Janganlah kita sudah mengelola sampah dengan baik tetapi kurang bijaksana misalnya tong-tong sampah atau tempat sampah kita dekatkan dengan pintu masuk rumah tetangga, atau tempat sampah kita tempatkan pada ruang untuk kegiatan umum seperti dekat lapangan volley pemuda, itu hanya sekedar contoh saja semacam ilustrasi belaka.
Sampah di kota bagaimana ?
Sebenarnya tak ada masalah kalau orang kota kreatif (bolehlah dibilang "kere aktif") karena sampah organik dari TPA dapat dikelola menjadi pupuk organik atau sampah plastik dan besi bisa di daur ulang, bisa dibikin mainan bahkan cendera mata dari barang bekas. Sudah "kere aktif" kah orang kota? Bagaimana dengan pengambil kebijakan (Dinas Tata Kota, Dinas Lingkungan Hidup, Bappedal, Pemda) bila perlu saling tukar informasi antar Pemda dan studi banding.
Mau contoh penanganan sampah yang kurang bijaksana lagi ?
Seperti diberitakan oleh Harian Kompas tanggal 16 Desember 2008, TPA Bantar Gebang (paling tidak kita pernah dengar daerah ini lewat lirik lagu dari kelompok "Slank" :......buang sampah di Bantar Gebang......) milik Dinas Kebersihan Kota DKI Jakarta dikomplain masyarakat di Desa Taman Rahayu Kecamatan Setu Kabupaten Bekasi karena TPA (Tempat Pembuangan Akhir) mencemari lingkungan di sekitarnya. Truk pengankut sampah di cegah masuk sehingga hanya antre di jalan menuju TPA, bagaimana akhirnya? bau dan lalat berterbangan membuat lingkungan sekitar jalan masuk TPA tidak nyaman. Apa tuntutan rakyat sekitar TPA ? Kompensasi perbaikan jalan, penyediaan air bersih karena air disekitar TPA sudah berbau dan tercemar. Nah, celaka, membuat malapetaka dan bisa-bisa kalau ada korban menjadikan masuk neraka...karena hanya kurang bijaksana.
Sampah pula dapat menjadikan orang kaya ?
Sampah dapat menjadi peluang kerja bagi pemulung, dapat pula menjadi peluang kerja bagi inovator seni (contohnya di daerah Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Indonesia ada seniman yang specialis membuat aneka bentuk benda seni dari kaleng bekas). Sampah pula yang mengantarkan "Keluarga Kasio" di daerah Magelang tepatnya di Jl. Sukarno-Hata Magelang menjadi jutawan sebagai pengepul "barang rongsok". Kalau kita amati di sekitar Jalan Sukarno Hata Magelang setiap harinya selalu ramai dengan kesibukan para pemulung dan beberapa truk gandeng yang akan mengirimkan barang rongsok ke Jakarta atau dengan tujuan pabrik daur ulang di Surabaya,itulah salah satu pengepul barang rongsok yang sukses. Keuntungan lain dari pengepul barang rongsok adalah membuka banyak lapangan kerja bagi para pemulung. Pemulung yang keluar masuk membawa barang rongsok ke "Kasio" tak terhitung jumlahnya. Acung jempol buat Pak Kasio !!!
Jika tidak ada pemulung yang rela mengambil sebagian onggokan sampah, kota ini semakin lama akan semakin tenggelam oleh sampah kita sendiri. Luas lahan tentunya tidak bertambah akan tetapi sampah setiap hari selalu ada. Jangan dibayangkanlah !
Pak Mentri, Pak DPR, Bapak atau Ibu yang duduk di Pemda atau pak siapa sajalah yang peduli pemulung, "Dana Mitra Lingkungan" atau semacamnya menurut kami sebagian sebaiknya lebih bermanfaat untuk menggalang dan meningkatkan hidup para pemulung. Adanya pemulung setidaknya membuat lingkungan kita juga semakin bersih. Perlu pula adanya pemulung-pemulung yang terpelajar. Jangan takut dan jangan malu dikatakan pemulung.
Budaya malu ?
Mengapa kita masih perlu budaya malu ? kata pepatah malu akan membuat kita tidak maju. Benarkah demikian ? memang ada benarnya, kalau kita malu bertanya tentu akan sesat dijalan. Kalau kita malu belajar kita akan ketinggalan dan tidak tahu informasi. Tetapi malu ada malu yang perlu dibudayakan untuk saat ini. Apa itu? inilah, malu untuk berbuat jahat, malu untuk korupsi, malu untuk mencemari. Kalu kita tidak punya rasa malu untuk jahat, untuk korupsi dan untuk mencemari tentu kita akan di anggap bangsa yang "malu-maluin" dan kita bisa dikatakan "orang yang tak tahu malu!!! Untuk malu akan berbuat jahat , korupsi dan malu untuk mencemari kita harus malu 100% jangan pernah malu-malu kucing (jawanya: aras-arasen isin). Karena malu-malu kucing itu merupakan malu yang setengah-setengah.
Bagi setiap insan ciptaan Tuhan yang disebut manusia yang masih punya kemaluan, katakan "aku malu ah!" jika membuang sampah sembarangan. Kalau perlu ada baliho atau poster di setiap pojok jalan kota dengan beruliskan "Jangan Buang Sampah Sembarangan". Itulah maksud kami untuk menumbuhkan rasa malu untuk membuang sampah sembarangan.
Baca : UU No. 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah !
Presiden bilang : Marilah kita "duduk bersama" untuk mengatasi dan menanggulangi sampah perkotaan. Mari Pak Presiden.....

1 komentar:

Anonim mengatakan...

namanya juga sampah... maka selalu adja mendjadi masalah pak...

salam kenal dari magelang raya